Home » » Gaharu yang selalu di buru

Gaharu yang selalu di buru

Apa dan bagaimana gaharu?
Dalam percakapan sehari-hari kita sering mendengar sebuah peribahasa yang berbunyi : Sudah Gaharu, Cendana Pula! Sudah Tahu, Bertanya Pula!. Namun untuk gaharu yang satu ini adalah gambaran dari sebuah realita bahwa Setelah tahu kayu gaharu dan ternyata harganya mahal, maka ia dicari dan diburu oleh masyarakat.
Istilah “gaharu” ada yang mengatakan  berasal dari bahasa Melayu yang artinya “harum”, ada juga yang bilang berasal dari bahasa Sangsekerta “aguru” yang berarti kayu berat (kayu yang dapat tenggelam).
gaharu way kambas Sebenarnya gaharu meru-pakan hasil dari jenis kayu tertentu yang terdapat di dalam hutan. Gaharu atau gubal gaharu (juga sering disebut : aloeswood, eaglewood, agarwood) merupakan substansi aromatic (aroma resin) berupa gumpalan atau padat yang berwarna coklat muda sampai coklat kehitaman yang terbentuk dalam lapisan kayu tertentu. Jenis kayu penghasil gaharu sendiri menurut informasi juga banyak. Ada ahli yang mengatakan terdapat 8 jenis, tapi ada pula yang sudah menemukan 11 jenis kayu.  Susbstansi aromatic yang terdapat  dalam gaharu atau gubal gaharu sendiri digolongkan sebagai golongan sesquiterpena. Dan sesquiterpena tersebut memiliki struktur kimia yang sangat spesifik sehingga sampai saat ini belum bisa dibuat tiruannya secara sintetis. Menurut para ahli, gaharu setidaknya mengandung tidak kurang dari 17 macam senyawa, yang antara lain, noroxo agorafuran, agarospirol, 3,4-dihydroxy-dihydroagaru-furan, dan sebagainya. Di Indonesia gaharu sudah dikenal sejak lebih dari 600 tahun silam. Perdagangan gaharu sendiri sudah berlangsung cukup lama dan dalam skala besar-besaran. Jenis gaharu yang paling baik/super adalah gaharu yang dihasilkan oleh jenis pohon Aquilaria malaccensis. Jenis inilah yang paling dicari dan diperdagangkan, sehingga keberadaannya di alam semakin langka dan bahkan saat ini sudah masuk kategori langka. Untuk mencegah agar statusnya semakin buruk-menjadi langka dan terancam punah, maka pada konferensi IX -CITES yang dilaksanakan pada bulan November 1994 di Florida, USA menghasilkan kesepakatan yang isinya menetapkan gaharu jenis ini dalam Apendix II (perdagangannya dibatasi dan dikontrol secara ketat).
Gambaran di way kambas dan sekitarnya
Sampai saat ini belum diketahui persis sebenarnya ada berapa jenis kayu gaharu di Taman nasional way kambas dan masuk dalam kategori mutu gaharu yang mana. Gaharu sebenarnya hampir tidak pernah terdengar di Taman nasional way kambas sebelumnya. Nama gaharu dan selan-jutnya popular dengan istilah pencurian kayu gaharu di way kambas kurang lebih sejak 10 tahun terakhir (1996/7) kesini. Sejak saat itu sepertinya dengan semboyan “pokoknya kayu gaharu” ditebang oknum masyarakat meringsek ke dalam hutan Taman nasional way kambas. Akibatnya sampai anak-cucu kayu naas itu tumbang dan busuk. Saat ini mulai tidak popular lagi karena mungkin pohon gaharunya hutan memang sudah habis atau boleh jadi belum tumbuh lagi. Berdasarkan hasil pengamatan, temuan di lapangan ternyata mencuatnya nama gaharu sampai pada pencurian gaharu besar-besaran di wilayah ini adalah akibat introdusir dari oknum kelompok masyarakat dari daerah luar Lampung yang lebih dulu mengenal dan memburu gaharu ini di daerah asalnya. Karena nilai ekonomis gaharu cukup tinggi dan lahan pencarian sudah habis maka mereka melebarkan sayap pencari ke lokasi lain. Orang-orang gaharu tergolong nekat dan merusak. Umumnya mereka masuk hutan dengan berkelompok 6-10 orang, bahkan lebih. Mereka membawa bekal logistik yang banyak untuk meng-inap di hutan dan mereka menebangi setiap pohon gaharu yang mereka temukan. Tidak jarang tim patroli way kambas memergoki, menangkap sampai mem-proses secara hukum terhadap pelang-garan yang telah mereka lakukan, nyatanya laksana hilang satu tumbuh sepuluh, orang gaharu terus memburu buruannya.
Saat ini, barangkali pencari gaharu di Taman nasional way kambas tinggal ngasak (mengais sisa) hasil panen - panen yang sudah berlangsung sebelumnya. Namun demikian kegiatan itu  masih ada dan terus berlangsung. Bahkan informasi terbaru sedang ngetren bahwa pencari gaharu di TNWK saat ini tidak hanya mengambil/memilih gubal gaharu-nya saja melainkan semua kayu yang mereka anggap sebagai “biang” gaharu mereka bawa dan mereka jual. Ini menjadi tantangan baru bagi kita semua.
Kearah solusi (wacana)
Meskipun semuanya masih dalam kerangka wacana, barangkali niat men- coba dengan berani mengambil resiko, berusaha sambil berdoa perlu dimulai di Taman nasional way kambas dan sekitarnya. Beberapa lokasi demplot yang sudah ada di Indonesia tentu saja dapat kita jadikan referensi belajar. Sebut saja, Dishut Riau kabarnya sudah menanam jenis Aqualiria Malaccesis seluas lebih dari 10 hektar di Taman Hutan Syarif Hasim, Riau, PT. Budidaya Perkasa juga menanam jenis yang sama 10 hektar, Universitas Mataram juga mulai pengembangan budidaya gaharu dan masih banyak lagi lembaga atau kelompok masyarakat yang mulai tergerak kearah sana. Tinggal kita bagaimana ??
Penulis : Sumianto PKHS
 

3 komentar:

  1. Sobat.. blogmu menanti buat diucapin selamat... Ko dibiarin begini sih?
    ingat waktu susah-susahnya sampai ga tidur...
    Atau gara-gara sy ya? waktu itu minta di edit-in poto... jgn diinget-inget lg soal poto ayo bangun lagi blog ini sampai menjadi blog besar dan terkenal... ini unik sob.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bang.. baru liat blog ini.. maaf ya waktu itu tak sempat edit photo abang, btw thanks banget bang, berkat bantuan abang blog way kambas jadi dapat rank 3 di google

      Hapus

Untuk memajukan dunia konservasi, Silah kan isi komentar anda disini, bisa berupa saran atau kritik