About Journey to way kambas

Cerita "Bulu" badak sumatera

Cerita  "Bulu"  badak sumatera
Cerita dongeng konservasi, yang di muat di Warta konservasi (WAKO) taman nasional way kambas, Ditulis oleh Dr. Robin (IRF).
Bulu adalah se-ekor badak sumatera. Bulu tahu cula miliknya istimewa, itu saja. Cula itu panjang, bahkan untuk badak berbulu sekalipun. Ujung cula itu licin mengkilat. Kalau ibunya tidak melihat, Bulu suka sekali membenamkan culanya di dalam lumpur dan menari sampai dia merasa pusing. Dia akan berputar dan berputar, seperti gasing berwarna coklat yang besar, sampai bulu-bulunya kusut. Bulu bangga dengan cula miliknya. Bulu senang menari. Bulu menari di sana – sini dan tidak bisa berhenti. Bulu menari lebih jauh ke dalam hutan tempat tumbuh bunga Rafflesia raksasa. Bulu berputar-putar dan melompat-lompat. Hewan-hewan lain menganggap itu aneh. Tanpa setahu Bulu, bisik-bisik tentang Badak dengan cula ajaib, hewan bertanduk yang suka berdansa, sudah tersebar diseluruh hutan. Suatu pagi, Bulu berjalan melewati sekelompok kelelawar yang sedang asik bergantung di pohon rambutan. Tiba-tiba saja cahaya matahari masuk diantara dahan-dahan pohon rambutan tadi. Dengan terkejut kelelawar-kelelawar itu turun dari cabang tempat mereka bergantung. “Bagaimana cara badak itu mendatangkan cahaya?” jerit seekor kelelawar dengan mata terbelalak. Itu pasti karena kehebatan culanya, kata kelelawar-kelelawar yang lain. “Itu pasti sihir” Dan Bulu bangga dengan cula miliknya. Di suatu siang yang panas, Bulu berkubang di dalam lumpur kering. Sekelompok katak melihatnya. Tiba-tiba saja air menyembur dari sekeliling badak itu, dan membuat sebuah kolam kecil. Katak-katak itu sangat kaget dan segera melompat ke kolam tadi, karena mereka sangat haus. “Bagaimana cara badak ini mendatangkan air?” tanya seekor katak gemuk berwarna oranye. “Itu pasti karena kehebatan culanya” jawab katak yang lain “Itu pasti sihir” Dan Bulu bangga dengan cula miliknya. Sore datang, Bulu berjalan dengan bangga di depan ibunya. Tiba-tiba Bulu tesentak dan terangkat ke atas. Dia tergantung dalam perangkap dan tidak bisa berbuat apa-apa. Cula Bulu yang panjang terjerat pada jaring yang tebal. Bulu meronta dan terus meronta sampai akhirnya dia bisa keluar dari jerat tadi. Tapi culanya tertinggal. Di sebuah kampung di ujung hutan tadi, ada seorang anak kecil sedang terbaring sakit. Namanya Junaidi. Jauh di dalam hutan, ayah Junaidi sedang mengambil cula Bulu dari jerat yang dia pasang. Dia melihat sekelilingnya. “Di mana badak itu?” dia merasa heran, karena dia tahu perangkap yang dia buat biasanya dapat membunuh hewan. Tapi tidak ada Badak, yang ada hanya sebuah cula! “Cula itu sangat istimewa, itu saja yang dia tahu. Cula itu panjang dan ujungnya licin mengkilat. Ayah Junaidi memegang erat-erat cula yang sangat berharga itu. Sesudah mendapat cula itu, cepat-cepat Ayah Junaidi kembali ke rumahnya karena anaknya yang sakit. “Junaidi, kamu harus minum obat yang berkhasiat ini.” Kata ayahnya. “Ini cula dari seekor badak berbulu.” Dari tempatnya berbaring Junaidi melihat cula badak tersebut. “Apa yang terjadi dengan Badak yang diambil culanya, yah?” dia berpikir. Suatu pagi, Junaidi bangun dengan tubuh yang lebih segar. Berita tentang kesembuhan Junaidi sudah tersebar di seluruh kampung. “Itu pasti karena khasiat cula badak.” Kata orang-orang kampung. “Cula itu sungguh berkhasiat.” Dengan langkah lunglai dan sedih Bulu berjalan-jalan di hutan, Bulu juga rindu untuk menari sampai dia merasa pusing. “Lihat badak yang tak bercula itu.” bisik seekor kelelawar. “Dia sudah tidak berdaya tanpa culanya.” Sesaat kemudian, Bulu mendorong batang pohon pepaya sehingga sinar masuk diatara dahan-dahan pepaya. “Lihat apa yang dilakukan badak itu!” teriak seekor kelelewar dengan mata terbelalak. “Dan dia melakukan itu tanpa culanya!” jerit kelelawar yang lain. Dan Bulu bangga pada dirinya. Sore itu, Bulu berkubang dalam lumpur yang kering untuk menghindari ejekan-ejekan dari hewan yang lain. “Lihat Badak yang tak bercula itu.” seekor katak berkata “Dia sudah tidak berdaya tanpa culanya.” Mendengar itu Bulu berkubang lebih dalam dan munculah kolam penuh air. “Lihat apa yang dilakukan badak itu!” seru seekor katak gemuk berwarna oranye. “Dan dia melakukan itu tanpa culanya!” kata seekor katak yang lain. Dan Bulu bangga pada dirinya.
cerita badak
Bulu menemui ibunya dan bersama-sama mereka berjalan menuju rumah. Tiba-tiba saja Ayah Junaidi melompat dan mengarahkan lembingnya pada ibu Bulu. Ayah Junaidi mau mengambil cula Ibu Bulu juga. Untuk berjaga-jaga kalau wabah penyakit datang kembali ke desa mereka. Ayah Junaidi sudah siap untuk melontarkan lembingnya itu. “Berhenti!” teriak Junaidi “Saya sudah sehat sekarang ayah, tapi bukan karena khasiat cula Badak!” “Ayah lihat kamu sembuh dengan mata kepala sendiri.” Jawab ayah Junaidi. “Itu karena kamu makan cula yang Ayah berikan.” “Tidak, Ayah, saya tidak makan cula itu,” Junaidi menarik sakunya dan menggeluarkan cula milik Bulu. Ayah Junaidi meletakkan lembingnya. Bulu sekarang mengerti, culanya bukan cula ajaib. Dan Bulu bangga pada dirinya. Malam itu, Junaidi dan ayahnya menyingkirkan semua perangkap maut yang mereka pasang di dalam hutan. Dalam perjalanan pulang, Junaidi melihat Bulu sedang berjalan diantara pohon-pohon. “Lihat, Ayah, “ kata Junaidi. “Badak yang tak bercula.” Ayah dan anak melihat Bulu berguling-guling dalam kubangan. Tiga ekor kelelawar bergantung di belakang badak berbulu itu dan berpesta dengan buah yang dia dapat. Di sekelilingnya, katak-katak bernyanyi bersahutan di kolam yang dibuat Bulu. Bulu tersenyum waktu katak gemuk berwarna oranye berputar dan berputar di atas hidungnya yang tidak bercula – menari sampai dia merasa pusing. Junaidi juga tersenyum. Paling tidak, semua jerat sudah tidak ada lagi di kawasan hutan itu (photos Rhino Cartoons)
Tag : Lain lain
0 Komentar untuk "Cerita "Bulu" badak sumatera"

Untuk memajukan dunia konservasi, Silah kan isi komentar anda disini, bisa berupa saran atau kritik

Back To Top