Taman Nasional Way Kambas

Konservasi kawasan Taman nasional way kambas

UPDATE TERBARU

Page rank blog way kambas


Berawal dari semangat saya membuat website taman nasional way kambas seperti dahulu, beberapa tahun yang lalu saya di tugas kan membuat website untuk kantor di tempat saya berkerja, dan kemudian di karena kan tidak ada nya dana untuk maintenance akhir nya website tersebut pun habis masa berlaku nya.
saat ini saya kembali bersemangat dan ingin membuat website lagi, tapi saya lagi lagi menemukan kendala biaya, tidak ada nya biaya untuk membangun sebuah website. akhir nya saya putus kan untuk membuat sebuah blog dari blogspot, alasan saya pakai blog menggunakan blogspot karena apabila kita sudah memiliki domain sendiri, maka kita bisa forward url, sehingga blog kita bisa langsung di rubah alamat nya. setelah berkeliling di google (maklum lah menurut saya rada sulit menemukan theme untuk blog konservasi, akhir nya saya menemukan template dari creatingwebsite kepunyaan mas kolis, untuk blog way kambas). saat itu 2 bulan saya sudah umur blog saya, dan saya menemukan kendala pada pagerank, seperti kita tahu page rank di google sangat di butuh kan untuk sebuah blog, sampai akhir nya saya menemukan sebuah blog http://azzam10.blogspot.com punya mas abdul kohar. dari situ lah kemudian saya bertanya, dan meminta bantuan untuk memodifikasi template dan merubah tag-tag agar seo friendly. alhamdulillah, dan tak di duga, blog way kambas ini langsung dapat peringkat 3, saya sendiri seperti engga percaya, dan bang abdul kohar pun seperti nya engga percaya,.. mantab banget.. , terimakasih banyak  buat mas abdul kohar yang sudah membantu blog saya sehingga punya rank dan thanks juga buat mas kolis atas template nya.
 

Gaharu yang selalu di buru

Apa dan bagaimana gaharu?
Dalam percakapan sehari-hari kita sering mendengar sebuah peribahasa yang berbunyi : Sudah Gaharu, Cendana Pula! Sudah Tahu, Bertanya Pula!. Namun untuk gaharu yang satu ini adalah gambaran dari sebuah realita bahwa Setelah tahu kayu gaharu dan ternyata harganya mahal, maka ia dicari dan diburu oleh masyarakat.
Istilah “gaharu” ada yang mengatakan  berasal dari bahasa Melayu yang artinya “harum”, ada juga yang bilang berasal dari bahasa Sangsekerta “aguru” yang berarti kayu berat (kayu yang dapat tenggelam).
gaharu way kambas Sebenarnya gaharu meru-pakan hasil dari jenis kayu tertentu yang terdapat di dalam hutan. Gaharu atau gubal gaharu (juga sering disebut : aloeswood, eaglewood, agarwood) merupakan substansi aromatic (aroma resin) berupa gumpalan atau padat yang berwarna coklat muda sampai coklat kehitaman yang terbentuk dalam lapisan kayu tertentu. Jenis kayu penghasil gaharu sendiri menurut informasi juga banyak. Ada ahli yang mengatakan terdapat 8 jenis, tapi ada pula yang sudah menemukan 11 jenis kayu.  Susbstansi aromatic yang terdapat  dalam gaharu atau gubal gaharu sendiri digolongkan sebagai golongan sesquiterpena. Dan sesquiterpena tersebut memiliki struktur kimia yang sangat spesifik sehingga sampai saat ini belum bisa dibuat tiruannya secara sintetis. Menurut para ahli, gaharu setidaknya mengandung tidak kurang dari 17 macam senyawa, yang antara lain, noroxo agorafuran, agarospirol, 3,4-dihydroxy-dihydroagaru-furan, dan sebagainya. Di Indonesia gaharu sudah dikenal sejak lebih dari 600 tahun silam. Perdagangan gaharu sendiri sudah berlangsung cukup lama dan dalam skala besar-besaran. Jenis gaharu yang paling baik/super adalah gaharu yang dihasilkan oleh jenis pohon Aquilaria malaccensis. Jenis inilah yang paling dicari dan diperdagangkan, sehingga keberadaannya di alam semakin langka dan bahkan saat ini sudah masuk kategori langka. Untuk mencegah agar statusnya semakin buruk-menjadi langka dan terancam punah, maka pada konferensi IX -CITES yang dilaksanakan pada bulan November 1994 di Florida, USA menghasilkan kesepakatan yang isinya menetapkan gaharu jenis ini dalam Apendix II (perdagangannya dibatasi dan dikontrol secara ketat).
Gambaran di way kambas dan sekitarnya
Sampai saat ini belum diketahui persis sebenarnya ada berapa jenis kayu gaharu di Taman nasional way kambas dan masuk dalam kategori mutu gaharu yang mana. Gaharu sebenarnya hampir tidak pernah terdengar di Taman nasional way kambas sebelumnya. Nama gaharu dan selan-jutnya popular dengan istilah pencurian kayu gaharu di way kambas kurang lebih sejak 10 tahun terakhir (1996/7) kesini. Sejak saat itu sepertinya dengan semboyan “pokoknya kayu gaharu” ditebang oknum masyarakat meringsek ke dalam hutan Taman nasional way kambas. Akibatnya sampai anak-cucu kayu naas itu tumbang dan busuk. Saat ini mulai tidak popular lagi karena mungkin pohon gaharunya hutan memang sudah habis atau boleh jadi belum tumbuh lagi. Berdasarkan hasil pengamatan, temuan di lapangan ternyata mencuatnya nama gaharu sampai pada pencurian gaharu besar-besaran di wilayah ini adalah akibat introdusir dari oknum kelompok masyarakat dari daerah luar Lampung yang lebih dulu mengenal dan memburu gaharu ini di daerah asalnya. Karena nilai ekonomis gaharu cukup tinggi dan lahan pencarian sudah habis maka mereka melebarkan sayap pencari ke lokasi lain. Orang-orang gaharu tergolong nekat dan merusak. Umumnya mereka masuk hutan dengan berkelompok 6-10 orang, bahkan lebih. Mereka membawa bekal logistik yang banyak untuk meng-inap di hutan dan mereka menebangi setiap pohon gaharu yang mereka temukan. Tidak jarang tim patroli way kambas memergoki, menangkap sampai mem-proses secara hukum terhadap pelang-garan yang telah mereka lakukan, nyatanya laksana hilang satu tumbuh sepuluh, orang gaharu terus memburu buruannya.
Saat ini, barangkali pencari gaharu di Taman nasional way kambas tinggal ngasak (mengais sisa) hasil panen - panen yang sudah berlangsung sebelumnya. Namun demikian kegiatan itu  masih ada dan terus berlangsung. Bahkan informasi terbaru sedang ngetren bahwa pencari gaharu di TNWK saat ini tidak hanya mengambil/memilih gubal gaharu-nya saja melainkan semua kayu yang mereka anggap sebagai “biang” gaharu mereka bawa dan mereka jual. Ini menjadi tantangan baru bagi kita semua.
Kearah solusi (wacana)
Meskipun semuanya masih dalam kerangka wacana, barangkali niat men- coba dengan berani mengambil resiko, berusaha sambil berdoa perlu dimulai di Taman nasional way kambas dan sekitarnya. Beberapa lokasi demplot yang sudah ada di Indonesia tentu saja dapat kita jadikan referensi belajar. Sebut saja, Dishut Riau kabarnya sudah menanam jenis Aqualiria Malaccesis seluas lebih dari 10 hektar di Taman Hutan Syarif Hasim, Riau, PT. Budidaya Perkasa juga menanam jenis yang sama 10 hektar, Universitas Mataram juga mulai pengembangan budidaya gaharu dan masih banyak lagi lembaga atau kelompok masyarakat yang mulai tergerak kearah sana. Tinggal kita bagaimana ??
Penulis : Sumianto PKHS
 

Cerita "Bulu" badak sumatera

cerita badak
Cerita dongeng konservasi, yang di muat di Warta konservasi (WAKO) taman nasional way kambas, Ditulis oleh Dr. Robin (IRF).
Bulu adalah se-ekor badak sumatera. Bulu tahu cula miliknya istimewa, itu saja. Cula itu panjang, bahkan untuk badak berbulu sekalipun. Ujung cula itu licin mengkilat. Kalau ibunya tidak melihat, Bulu suka sekali membenamkan culanya di dalam lumpur dan menari sampai dia merasa pusing. Dia akan berputar dan berputar, seperti gasing berwarna coklat yang besar, sampai bulu-bulunya kusut. Bulu bangga dengan cula miliknya. Bulu senang menari. Bulu menari di sana – sini dan tidak bisa berhenti. Bulu menari lebih jauh ke dalam hutan tempat tumbuh bunga Rafflesia raksasa. Bulu berputar-putar dan melompat-lompat. Hewan-hewan lain menganggap itu aneh. Tanpa setahu Bulu, bisik-bisik tentang Badak dengan cula ajaib, hewan bertanduk yang suka berdansa, sudah tersebar diseluruh hutan. Suatu pagi, Bulu berjalan melewati sekelompok kelelawar yang sedang asik bergantung di pohon rambutan. Tiba-tiba saja cahaya matahari masuk diantara dahan-dahan pohon rambutan tadi. Dengan terkejut kelelawar-kelelawar itu turun dari cabang tempat mereka bergantung. “Bagaimana cara badak itu mendatangkan cahaya?” jerit seekor kelelawar dengan mata terbelalak. Itu pasti karena kehebatan culanya, kata kelelawar-kelelawar yang lain. “Itu pasti sihir” Dan Bulu bangga dengan cula miliknya. Di suatu siang yang panas, Bulu berkubang di dalam lumpur kering. Sekelompok katak melihatnya. Tiba-tiba saja air menyembur dari sekeliling badak itu, dan membuat sebuah kolam kecil. Katak-katak itu sangat kaget dan segera melompat ke kolam tadi, karena mereka sangat haus. “Bagaimana cara badak ini mendatangkan air?” tanya seekor katak gemuk berwarna oranye. “Itu pasti karena kehebatan culanya” jawab katak yang lain “Itu pasti sihir” Dan Bulu bangga dengan cula miliknya. Sore datang, Bulu berjalan dengan bangga di depan ibunya. Tiba-tiba Bulu tesentak dan terangkat ke atas. Dia tergantung dalam perangkap dan tidak bisa berbuat apa-apa. Cula Bulu yang panjang terjerat pada jaring yang tebal. Bulu meronta dan terus meronta sampai akhirnya dia bisa keluar dari jerat tadi. Tapi culanya tertinggal. Di sebuah kampung di ujung hutan tadi, ada seorang anak kecil sedang terbaring sakit. Namanya Junaidi. Jauh di dalam hutan, ayah Junaidi sedang mengambil cula Bulu dari jerat yang dia pasang. Dia melihat sekelilingnya. “Di mana badak itu?” dia merasa heran, karena dia tahu perangkap yang dia buat biasanya dapat membunuh hewan. Tapi tidak ada Badak, yang ada hanya sebuah cula! “Cula itu sangat istimewa, itu saja yang dia tahu. Cula itu panjang dan ujungnya licin mengkilat. Ayah Junaidi memegang erat-erat cula yang sangat berharga itu. Sesudah mendapat cula itu, cepat-cepat Ayah Junaidi kembali ke rumahnya karena anaknya yang sakit. “Junaidi, kamu harus minum obat yang berkhasiat ini.” Kata ayahnya. “Ini cula dari seekor badak berbulu.” Dari tempatnya berbaring Junaidi melihat cula badak tersebut. “Apa yang terjadi dengan Badak yang diambil culanya, yah?” dia berpikir. Suatu pagi, Junaidi bangun dengan tubuh yang lebih segar. Berita tentang kesembuhan Junaidi sudah tersebar di seluruh kampung. “Itu pasti karena khasiat cula badak.” Kata orang-orang kampung. “Cula itu sungguh berkhasiat.” Dengan langkah lunglai dan sedih Bulu berjalan-jalan di hutan, Bulu juga rindu untuk menari sampai dia merasa pusing. “Lihat badak yang tak bercula itu.” bisik seekor kelelawar. “Dia sudah tidak berdaya tanpa culanya.” Sesaat kemudian, Bulu mendorong batang pohon pepaya sehingga sinar masuk diatara dahan-dahan pepaya. “Lihat apa yang dilakukan badak itu!” teriak seekor kelelewar dengan mata terbelalak. “Dan dia melakukan itu tanpa culanya!” jerit kelelawar yang lain. Dan Bulu bangga pada dirinya. Sore itu, Bulu berkubang dalam lumpur yang kering untuk menghindari ejekan-ejekan dari hewan yang lain. “Lihat Badak yang tak bercula itu.” seekor katak berkata “Dia sudah tidak berdaya tanpa culanya.” Mendengar itu Bulu berkubang lebih dalam dan munculah kolam penuh air. “Lihat apa yang dilakukan badak itu!” seru seekor katak gemuk berwarna oranye. “Dan dia melakukan itu tanpa culanya!” kata seekor katak yang lain. Dan Bulu bangga pada dirinya.
cerita badak
Bulu menemui ibunya dan bersama-sama mereka berjalan menuju rumah. Tiba-tiba saja Ayah Junaidi melompat dan mengarahkan lembingnya pada ibu Bulu. Ayah Junaidi mau mengambil cula Ibu Bulu juga. Untuk berjaga-jaga kalau wabah penyakit datang kembali ke desa mereka. Ayah Junaidi sudah siap untuk melontarkan lembingnya itu. “Berhenti!” teriak Junaidi “Saya sudah sehat sekarang ayah, tapi bukan karena khasiat cula Badak!” “Ayah lihat kamu sembuh dengan mata kepala sendiri.” Jawab ayah Junaidi. “Itu karena kamu makan cula yang Ayah berikan.” “Tidak, Ayah, saya tidak makan cula itu,” Junaidi menarik sakunya dan menggeluarkan cula milik Bulu. Ayah Junaidi meletakkan lembingnya. Bulu sekarang mengerti, culanya bukan cula ajaib. Dan Bulu bangga pada dirinya. Malam itu, Junaidi dan ayahnya menyingkirkan semua perangkap maut yang mereka pasang di dalam hutan. Dalam perjalanan pulang, Junaidi melihat Bulu sedang berjalan diantara pohon-pohon. “Lihat, Ayah, “ kata Junaidi. “Badak yang tak bercula.” Ayah dan anak melihat Bulu berguling-guling dalam kubangan. Tiga ekor kelelawar bergantung di belakang badak berbulu itu dan berpesta dengan buah yang dia dapat. Di sekelilingnya, katak-katak bernyanyi bersahutan di kolam yang dibuat Bulu. Bulu tersenyum waktu katak gemuk berwarna oranye berputar dan berputar di atas hidungnya yang tidak bercula – menari sampai dia merasa pusing. Junaidi juga tersenyum. Paling tidak, semua jerat sudah tidak ada lagi di kawasan hutan itu (photos Rhino Cartoons)
 

Nama anak badak sumatera itu "ANDATU"

andatu anak badak sumatera
Setelah keberhasilan SRS (suaka rhino sumatera) yang berada di way kambas national park, terlihat raut wajah kegembiraan semua karyawan SRS, terutama para keeper atau pawang badak SRS, 14 tahun mereka mengabdi di srs, dan baru sekarang mereka merasa benar benar berhasil. Seperti posting saya kemarin berjudul A Litle Sumatran Rhino Was Born baca disini, Ratu seekor badak betina dari taman nasional way kambas telah melahirkan seekor bayi jantan, dan sekarang bayi jantan itu langsung diberi nama "ANDATU"   oleh bapak menteri kehutanan RI. Zulkifli Hasan. Mungkin karena nama Bapak nya Andalas, dan nama ibu nya Ratu. makanya di beri nama ANDATU.
Semoga kelak Andatu setelah cepat menjadi jantan dewasa dan bisa memberi keturunan sehingga makin bertambah populasi badak sumatera kita, amin..
Penulis  : R-Quadrat
Photo : SRS
 

Tarif masuk Pusat Konservasi gajah

Berikut Daftar tarif masuk pengujung Pusat Konservasi Gajah Taman nasional way kambas (PKG/PLG).

Karcis masuk
Rp. 2.500/orang
Naik gajah
Rp. 5000/orang
Safari gajah
Rp.50.000/orang/jam
Safari Night
Rp.250.000/orang
Naik Kereta Gajah
Rp.4000/orang/trip
Karcis atraksi
Rp.4000/orang
 

Pentingnya kurikulum konservasi di dunia pendidikan

Seperti  janji saya kemarin untuk membahas tentang penerapan kurikulum berbasis konservasi di sekolah sekolah. yang saya muat dalam halaman Apresiasi musik terhadap dunia konservasi.
kurikulum konservasi
 Saya melihat hal ini efek nya akan sangat terasa untuk jangka panjang, terlebih ketika murid murid di sekolah sudah beranjak dewasa, mereka sudah tertanam jiwa konservasi, dan dengan demikian generasi mereka akan cenderung lebih sedikit untuk melakukan perusakan hutan.
Pada saat ini saya banyak membaca artikel tentang kurikulum konservasi, kebanyakan dari semua nya berbasis lokal atau sering disebut mulok (muatan lokal), Tujuan nya tentu untuk menciptakan pemahaman dan kesadaran masyarakan setempat yang tinggal di daerah perbatasan hutan dan kawasan,memberikan pendidikan kepada mereka tentang pemeliharaan dan pengelolaan hutan supaya lebih lestari.  Tentu semua memerlukan keterlibatan pihak pihak terkait, seperti dinas pendidikan, SLTP di kabupaten sekitar kawasan, Kementrian Kehutanan serta Dinas Kehutanan Kabupaten. Dari keterkaitan pihak tersebut diharap kan dapat menggodok kurikulum pembelajaran tentang konservasi dengan metode   yang sesuai, sehingga mudah diserap dan di terapkan oleh siswa. Harapan kedepan tentu nya bisa di terapkan metode yang terupdate tentang konservasi secara berkesinambungan. Mudah-mudahan  bila tercapai dan terlaksana dalam penerapan nya dalam jangka waktu 15 tahun kedepan tingkat kerusakan hutan bisa di minimalisir dengan kesadaran dan jiwa konservasi yang sudah tertanam sejak masa pendidikan di bangku sekolah.
Penulis : R-Quadrat